💦 YA RABBI, TERIMALAH UMROH KAMI!
Awal Ramadhan 1447 H - di Tanah Haram Makkah
Setelah tiba di Makkah, jemaah Bina Umroh beristirahat sejenak. Malam itu, tepat pukul 23.00, langkah-langkah penuh harap mulai mengarah ke Masjidil Haram. Udara malam terasa sejuk, namun hati bergetar hangat oleh rindu yang telah lama dipendam.
Di pelataran suci itu, pandangan pertama tertuju pada Ka'bah. Air mata menetes tanpa diminta. Lisan bergetar membaca doa. Inilah rumah Allah yang selama ini hanya terlihat dalam doa dan bayangan.
🕋 Tawaf: Mengitari Kiblat Kaum Muslimin
Rangkaian umroh di Masjidil Haram dimulai dengan tawaf tujuh putaran. Allah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua (Baitullah).” (QS. al-Hajj: 29)
Putaran demi putaran dilalui. Tubuh bergerak, tetapi hati tunduk. Tawaf bukan sekadar berjalan melingkar—ia adalah deklarasi tauhid. Hidup seorang mukmin harus berporos hanya kepada Allah, sebagaimana seluruh langkah mengitari satu tujuan, yaitu Allah Rabbul 'Alamin. Dalam lautan manusia tanpa sekat jabatan dan bangsa, terasa betapa kecilnya diri. Ego luluh. Yang tersisa hanyalah hamba dan Rabb-nya. Apalagi di bulan Ramadhan. Lautan manusia memenuhi panggilan-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya tawaf di Ka’bah, sa’i antara Shafa dan Marwah, dan melempar jumrah dijadikan untuk menegakkan dzikir kepada Allah.” (HR. Abu Dawud)
Tawaf selesai, namun perjalanan belum usai.
🕌 Shalat di Belakang Maqam Ibrahim: Jejak Tauhid
Selepas tawaf, kami menunaikan dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Allah berfirman: “Dan jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” (QS. al-Baqarah: 125)
Di tempat berpijaknya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam saat membangun Ka’bah, kami bersujud. Ibadah ini bukan sekadar ritual, tetapi penyambung risalah tauhid dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad ﷺ.
Setelah bergerak dalam tawaf, kini kami diam dalam sujud. Islam mengajarkan keseimbangan dan proporsional, bergerak dan hening, usaha dan tunduk, upaya dan doa.
💧 Air Zam-Zam: Jawaban atas Tawakal
Kami pun menuju tempat minum zam-zam. Air yang tak pernah kering sejak ribuan tahun.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Air zam-zam itu sesuai dengan niat orang yang meminumnya.”
(HR. Ibnu Majah)
Tegukan demi tegukan diiringi doa. Air ini adalah saksi tawakal Hajar— saat berlari antara Shafa dan Marwah demi anaknya, hingga Allah pancarkan pertolongan dari tanah tandus.
Zam-zam mengajarkan: ketika usaha telah maksimal dan hati bersandar penuh kepada Allah, pertolongan datang dari arah yang tak disangka-sangka.
📶 Sa’i: Ikhtiar yang Tak Pernah Putus
Perjalanan umroh dilanjutkan dengan sa’i antara Shafa dan Marwah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi’ar Allah.” (QS. al-Baqarah: 158)
Tujuh kali bolak-balik. Mengenang perjuangan seorang ibu yang tidak menyerah pada keadaan. Sa’i adalah tanda ikhtiar dan berusaha. Sebab, islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha.
Setiap langkah mengajarkan bahwa dalam kesempitan, kita harus terus bergerak. Dalam kelelahan, tetap berharap. Dalam ujian, jangan berhenti berusaha dan berdoa.
✂️ Tahallul: Awal yang Baru
Akhirnya, tepat pukul 03.15, seluruh rangkaian umroh selesai hingga tahallul. Rambut dipotong sebagai tanda berakhirnya manasik. Allah berfirman:
“Dengan mencukur rambut kepala dan memendekkannya.” (QS. Al-Fath: 27)
Rasulullah ﷺ bahkan mendoakan rahmat bagi yang mencukur rambutnya. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.
Tahallul bukan hanya sekedar syariat memotong rambut, baik dengan menggundul atau memendekkan bagi jemaah pria atau memotong 3 helai rambut bagi jemaah wanita. Lepasnya rambut berharap lepasnya dosa, tanda kerendahan hati, dan tekad untuk memulai kehidupan baru. Rambut yang merupakan mahkota bagi seorang manusia, ternyata ia dilepas sebagai bukti totalnya penghambaan diri kepada Rabb alam semesta.
🌙 Penutup Perjalanan Malam Itu