📢📝📖 TAHAPAN SEORANG YANG BERILMU
أَوَّلُ الْعِلْمِ حُسْنُ الِاسْتِمَاعِ، ثُمَّ الْفَهْمُ، ثُمَّ الْحِفْظُ، ثُمَّ الْعَمَلُ، ثُمَّ النَّشْرُ.
“Awal dari ilmu adalah baik dalam mendengarkan, kemudian memahami, lalu menghafal, kemudian mengamalkan, lalu menyebarkannya.”
Tingkatan seorang yang berilmu itu, ketika dia duduk di majelis ilmu belajar di hadapan gurunya yang pertama adalah - حسن الاستماع - "mendengarkan dengan baik". Na'am, dengarkan dengan baik apa yang disampaikan. Jangan ada yang mengganggu, jangan sibuk sendiri, jangan mikir yang lain-lain. kalau memang dia ingin dapat ilmu maka dengarkan dengan baik. - ثُمَّ الْفَهْمُ - "Kemudian faham". Setelah masuk ke telinga kita, kita dengar maka fahamilah. "Oh iya seperti itu". Oh bagaimana kalau nggak faham? Tulis, tulis yang dia nggak faham nanti dia tanyakan. Kalau dia memang ingin ilmu.
Kalau dia tidak ingin ilmu, maka yang penting hadir. Yang penting jangan sampai dicap wah nggak pernah hadir majelis ilmu, jangan seperti itu.
Dengarkan dengan baik-baik kemudian pahami apa yang disampaikan. Setelah dia paham, - ثُمَّ الْحِفْظُ - "kemudian hafalkan". Hafalkan dari dalil-dalilnya, jika itu ayat alquran, hafalkan, jika itu dalilnya dari hadits yang mudah dihafal, hafalkan. Memang betul kita tidak harus hafal semuanya, karena mungkin kita tidak mampu untuk menghafalkan semua, tapi cari yang paling pentingnya, cari yang paling mudah untuk dihafal.
Tapi kalau tidak hafal sama sekali, berarti dia mau jualan tapi nggak punya modal. Sama seperti itu, mau dagang tapi nggak punya modal, bagaimana ini? Karena hafalan itu adalah modal. Hafalan itu adalah modal untuk kita berdakwah, modal untuk kita menasihati, mengarahkan, itu butuh hafalan kita. Kalau tidak, akhirnya ucapan kita kosong dari dalil, tidak ada Qalallah wa Qala Rasuluh. Yang ada adalah kata guru saya, kata fulan, kata fulan. Maka dari itu hafalkan.
kemudian yang setelahnya adalah - ثُمَّ الْعَمَلُ - "mengamalkan ilmu tersebut". Dia sudah dengar baik-baik, kemudian dia pahami, kemudian dia hafal, kemudian dia amalkan. Amalkan dulu untuk diri sendiri, amalkan ilmu itu. Karena waktu-waktu kita seperti ini adalah waktu untuk kita mengumpulkan ilmu ini, kita catat, ilmu ini kita hafal, baru setelah itu kita amalkan.
Karena yang namanya amal nggak nunggu nanti kalau kita besar, nggak nunggu nanti kalau kita sudah dewasa, nggak nunggu nanti kalau kita sudah jadi ustaz. Yang namanya pengamalan, dia dapat ilmu waktu itu, amalkan waktu itu juga. Amalkan.
setelah itu - ثُمَّ النَّشْرُ - "kemudian sebarkan", yakni dakwahkan, ajarkan kepada orang lain. Karena siapa yang ia menuntut ilmu, dia tanamkan kepada dirinya untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan kebodohan dari orang lain, maka dia akan sungguh-sungguh.
Dari lima perkara ini maka dia akan benar-benar perhatikan. Kenapa? Karena ada rasa tanggung jawab, ada rasa dia ini diharuskan nantinya untuk memberikan zakatnya, memberikan oleh-olehnya kepada orang lain, kepada orang tua, kepada saudara. Apa oleh-oleh dia dalam menuntut ilmu ini? Karena ilmu ini ada zakatnya dan zakatnya adalah kita sampaikan.
بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً
"sampaikan dariku walaupun satu ayat."
Yakni walaupun dia tahu sedikit, contoh tentang makan dengan tangan kanan itu hukumnya wajib. Dia tahu karena dia pernah belajar dan pernah dia baca haditsnya, lalu melihat saudaranya makan dengan tangan kiri, maka ingatkan. Berarti sama saja dengan dia mendakwahkan. Tidak nunggu jadi ustaz dulu baru dia mengingatkan orang lain makan tangan kanan, tidak. Tidak nunggu jadi orang alim dulu.
Bahkan ulama mengatakan, seorang yang menegur saudaranya dan dia tahu persis ilmunya, maka dia dianggap alim dalam hal itu dia dianggap alim. Thayyib, kenapa? Karena dia tahu ilmunya. Inilah 'an-nasyr', menyebarkan, yakni ad-da'wah.