KEKUATAN NIAT
Alkisah, dan ini kisah nyata.
Seorang pemuda, di saat masih tercatat sebagai mahasiswa semester 4 di perguruan tinggi ternama di Bandung.
Ia memutuskan berhenti kuliah.
Dan sudah tidak pernah lagi masuk kuliah selama berbulan-bulan. Bahkan Ujian Tengah Semester tak diikutinya.
Bulat tekadnya untuk mondok. Di Pesantren, di Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Ia tetap ke kampus. Tapi tak masuk kelas. Pikirnya "aku ke kampus mau belajar. aku hanya mau pelajari yang aku butuhkan. dan yang aku butuhkan ada di perpustakaan. buku-buku agama dan ilmu bahasa Arab".
Hanya satu niatnya sampai ia mau berhenti kuliah dan ke pondok:
Ingin memperdalam bahasa Arab agar bisa baca kitab-kitab, lalu mendakwahkan isinya ke tengah ummat.
Niatan ini pun didukung oleh 99% rekan dan seniornya.
Setelah mempersiapkan segala sesuatunya untuk meninggalkan Bandung, ia dicegah oleh salah seorang seniornya.
Mereka berdua berbincang panjang, berjam-jam, di malam sunyi, mengenai alasan kenapa harus berhenti kuliah dan hendak pergi ke pondok.
Sang senior memaklumi.
Namun sang senior memberi pengarahan yang kemudian mengubah hidup sang mahasiswa itu hingga kini.
"Antum ke pesantren mau cari apa? Bahasa Arab? Di sini juga bisa bahasa Arab. Nanti kita belajar bahasa Arab. Orang tua Antum memberi amanah. Antum tunaikan amanah itu. Selesaikan kuliah. Jadilah sarjana. Lalu berikan ijazah itu ke orang tua Antum. Kemudian izin pada orang tua Antum "Pak, Bu, ini gelar sarjana saya, sekarang saya izin mau berdakwah".
Begitu nasehat sang senior.
Seperti terlahir kembali. Mahasiswa itu pun mulai menata kembali aktivitas sehari-harinya.
Atas bantuan para senior, yang berinisiatif membantu melobikan pihak kampus, akhirnya ia diperbolehkan ikut Ujian Akhir Semester yang akan dimulai tinggal hitungan hari.
Dosen Wali dan seluruh Dosen pun memaklumi.
Singkat cerita, ia pun selesai kuliah, jadi sarjana, Alhamdulillah. Kedua orang tua berangkat naik kapal dua malam, dan kereta api satu malam dari kampung menuju Bandung. Menghadiri wisuda sang anak.
Photonya masih terabadikan hingga kini.
Kenangan yang membuat bangga semua orang tua.
Tak hanya itu. Sebelum wisuda, ia sudah menerjemahkan satu buku bahasa Arab yang sekarang sudah menjadi Best Seller di Indonesia, bahkan Malaysia. Dan sudah pula mengajar bahasa Arab di lingkungan teman-temannya sesama mahasiswa.
Niat dan tekadnya yang ia miliki untuk bisa bahasa Arab ia benar-benar wujudkan dengan setiap hari membaca buku teori, bertanya ke teman dan senior yang sudah bisa bahasa Arab, mengikuti berbagai kursus informal yang diadakan di sekitar kampus.
Keputusannya batal ke Pondok, terbayar sudah.
Keputusannya untuk berbakti pada orang tua, dengan menunaikan amanah untuk jadi sarjana, diganjar dengan capaian-capaian lainnya yang mungkin takkan didapat jika ia 'membelot' dari amanah orang tua.
Keputusannya untuk menunda ikut serta dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) setahun kemudian, tergantikan dengan berhasilnya ia memahami Tata Bahasa Arab hanya dalam 2 Bulan. Alhamdulillah.
Sebelum ia lulus kuliah, sempat menyusunkan kurikulum dan silabus belajar bahasa Arab untuk adik-adik mahasiswa yang aktif di Lembaga Dakwah Kampus, tempat ia sempat menjadi Ketua Hariannya di sana selama 1 tahun di ujung masa menjadi mahasiswa.
Ia, melanjutkan petualangan bahasa Arabnya dengan membaca, menulis dan menularkan semangat ke yang lain.
Salah satu hasil karyanya, adalah 29 Hari Paham Tata Bahasa Arab - Alquran. Hasil kerjasama dengan Akademi Bahasa Arab Al Ihsan.
Kalau ia, dalam 2 bulan saja bisa. Padahal waktu itu sarana dan media belajar sangat terbatas. Tentu Anda pun bisa. Bahkan lebih cepat dari bulan.
Ya, 29 Hari.
Mari, ikuti program ini. Kalau belum bisa ikut, NIATKAN untuk ikut pada gelaran yang akan datang.
Karena di balik niat ada KEKUATAN.
Kalau pun tidak ikut program ini, cari program lain yang dirasa cocok segala aspeknya.
Jangan sampai, berniat saja kita tidak punya.
Undang rekan se-propinsi Anda untuk bergabung di sini:
๐๐โบ๏ธ