Serial Fikrah Al-Quran #01
Tabawwa' dan Konstruksi Peradaban: Membaca Al-Hasyr 8-10 dalam Hubungannya dengan Yunus 93
(Ditulis dan dikembangkan oleh Ustadzah Tutik Hasanah dari Taujih K. H. Abdul Aziz Abdur Rauf, Lc.,)
Pendahuluan: Melampaui Terjemahan Literal
Kata تَبَوَّأَ dalam bahasa Arab lazim diterjemahkan sebagai “menempati”, “mengambil tempat tinggal”, atau “menetap”. Akan tetapi, dalam jaringan makna Al-Qur’an, kata ini tidak berhenti pada pengertian lokasi geografis. Ia mengandung makna menyiapkan ruang, menata lingkungan, membangun basis kehidupan, dan menghadirkan suatu tempat sebagai ruang bermakna.
Dengan demikian, tabawwā' dapat dipahami bukan hanya sebagai menempati ruang, tetapi juga sebagai creating space, creating community, bahkan creating civilization. Pembacaan ini menjadi penting ketika Al-Qur’an menggunakan ungkapan تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ dalam Surat Al-Hasyr ayat 9. Kaum Ansar tidak sekadar menjadi penduduk Madinah secara fisik, tetapi menjadi komunitas yang lebih dahulu menata Madinah sebagai ruang iman, ruang sosial, dan ruang peradaban.
Artikel ini mengajukan argumentasi bahwa Al-Hasyr ayat 8, 9, dan 10 menyajikan model Qur’ani tentang kelahiran peradaban. Ayat 8 menghadirkan kaum Muhajirin sebagai manusia yang berani melepaskan kepemilikan material demi keridaan Allah. Ayat 9 menghadirkan kaum Ansar sebagai komunitas yang menciptakan ruang sosial dengan cinta dan pengutamaan orang lain. Ayat 10 menghadirkan generasi beriman sesudah mereka sebagai penjaga atmosfer batin peradaban melalui doa, pengampunan, dan pembersihan hati dari غِلّ.
Ketika suasana spiritual seperti ini terkumpul, Allah memberikan bentuk kediaman terbaik, sebagaimana tergambar dalam Yunus ayat 93: مُبَوَّأَ صِدْقٍ, sebuah tempat tinggal yang benar, layak, berkah, dan bermartabat.
Al-Hasyr Ayat 8: Modal Awal Peradaban adalah Pengorbanan dan Kejujuran
لِلْفُقَرَآءِ ٱلْمُهَـٰجِرِينَ ٱلَّذِينَ أُخْرِجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِمْ وَأَمْوَٰلِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًۭا مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنًۭا وَيَنصُرُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ ٨
“Bagi orang-orang fakir Muhajirin yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka; mereka mencari karunia dari Allah dan keridaan-Nya, serta menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”
Ayat ini membuka bangunan argumentasi peradaban dengan sebuah paradoks besar. Peradaban Islam di Madinah tidak dimulai dari manusia yang datang dengan kekayaan, kekuasaan, dan kemapanan sosial. Ia justru dimulai dari kaum yang datang dalam keadaan kehilangan hampir seluruh sandaran duniawinya.
Al-Qur’an menyebut mereka لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ, orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin. Mereka bukan hanya miskin karena tidak memiliki harta, tetapi juga fakir secara sosial karena tercerabut dari rumah, keluarga besar, jaringan ekonomi, dan kehormatan kabilah yang sebelumnya melindungi mereka.
Ungkapan أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ menegaskan bahwa hijrah bukan perjalanan romantik. Hijrah adalah pengalaman eksistensial yang keras. Mereka keluar dari Makkah bukan sebagai pelancong, melainkan sebagai manusia yang dipaksa meninggalkan rumah dan harta.
Namun justru dalam keadaan paling rentan itu, Al-Qur’an menyingkap motif terdalam mereka: يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا. Mereka mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Inilah titik pentingnya. Peradaban yang benar tidak dibangun pertama-tama oleh modal ekonomi, tetapi oleh orientasi rohani yang jernih.
Ayat ini ditutup dengan frasa أُولَـٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ, “mereka itulah orang-orang yang benar.” Al-Qur’an tidak menyebut mereka sebagai orang yang paling kuat, paling strategis, atau paling kaya. Al-Qur’an menyebut mereka الصَّادِقُونَ. Artinya, fondasi pertama peradaban bukanlah kekuatan material, melainkan kejujuran eksistensial.