Niat Lebih Unggul Dari Amal
Sesungguhnya di antara keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah adalah iman bertambah dengan amal saleh dan berkurang dengan maksiat kepada Allah. Para ulama telah menjelaskan bahwa amal saleh terdiri atas tiga hal, yaitu amalan lisan, amalan anggota tubuh, dan amalan hati.
Banyak orang yang ketika ingin menambah keimanannya hanya memperhatikan amal saleh dari sisi lisan dan anggota tubuh semata. Mereka perhatian untuk membaca Al-Qur'an dan zikir dengan lisannya, serta perhatian terhadap salat, haji, dan umrah dengan anggota tubuhnya. Akan tetapi, mereka kurang memperhatikan amalan hati. Padahal banyak amal saleh yang bisa dilakukan dengan hati.
Di antara sekian banyak amalan hati yang sangat penting adalah niat yang baik. Oleh karenanya, para salaf dahulu mengatakan:
نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ أَبْلُغُ مِنْ عَمَلِهِ
"Niat seorang mukmin lebih sampai daripada amalnya."
Lafal ini diriwayatkan dari Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis yang derajatnya daif, akan tetapi maknanya benar. Oleh karenanya, hal ini telah disebutkan oleh para salaf dan dijelaskan oleh para ulama.
Tiga Sisi Keutamaan Niat
Pertama, niat yang murni bisa bernilai ibadah, sementara amal tanpa niat tidak akan bernilai ibadah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
((فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً))
"Barang siapa berkeinginan untuk melakukan kebaikan namun belum melakukannya, maka Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna untuknya." (HR. Muslim)
Maka meskipun seseorang tidak beramal, jika ia telah memiliki niat yang baik, ia tetap mendapatkan pahala. Sebaliknya, amal tanpa niat mustahil mendatangkan pahala
Kedua, niat adalah amalan hati, sementara amal adalah amalan anggota tubuh. Hati adalah raja, sedangkan anggota tubuh adalah pasukannya. Maka tentu berbeda antara amalan raja dan amalan pasukan. Ini menunjukkan bahwa secara umum amalan hati lebih afdal daripada amalan anggota tubuh. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
((إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ))
"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
Ketiga, jika seseorang berniat untuk melakukan suatu kebaikan dan telah berusaha semampunya namun tidak mampu menyelesaikannya, maka tetap dicatat baginya sebagai amalan yang sempurna. Dalil akan hal ini sangat banyak, di antaranya sabda Nabi Muhammad ﷺ kepada para sahabat ketika Perang Tabuk:
((إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا، مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا، وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ))
"Sesungguhnya di dalam Madinah itu ada sekelompok kaum, yang tidaklah kalian menempuh perjalanan dan tidaklah kalian menyeberangi lembah, kecuali mereka diikutsertakan bersama kalian dalam ganjaran."
Para sahabat pun bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah mereka berada di dalam Madinah?"
Beliau menjawab:
((وَهُمْ بِالْمَدِينَةِ، حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ))
"Mereka di Madinah karena terhalangi oleh uzur." (HR. Al-Bukhari)
Bayangkan, Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan bahwa ada orang yang tinggal di Madinah — tidak ikut berangkat sejauh ±700 km (kurang lebih sejauh Jakarta–Surabaya) menuju Tabuk untuk berjihad — namun mendapatkan pahala yang sama dengan mereka yang berangkat. Ini semua karena mereka telah berniat untuk ikut berjihad, tetapi terhalang oleh sakit.
..
𝐑𝐞𝐟𝐞𝐫𝐞𝐧𝐬𝐢:
• Bekal Mimbar. Cetakan pertama, Tahun 2025. Firanda Andirja. Penerbit UFA Office, Jld. 2, hlm. 397-400.
__