Aku lupa kapan terakhir kali kita semua duduk di meja ini lengkap.
Mama, Papa, Ce Kinan, Ko Kevin dan aku. Lima orang yang masing-masing punya jadwal, kota, dan dunia sendiri, entah bagaimana berhasil duduk di kursi yang sama di malam yang sama. Mama yang masak sendiri, padahal biasanya Bu Sari yang masak. Itu saja sudah cukup untuk membuat malam ini terasa berbeda sebelum makanannya bahkan tersaji.
Awalnya menyenangkan. Atau setidaknya terasa seperti itu.
Ko Kevin bercerita soal kasus yang tidak bisa ia ceritakan secara detail tapi cukup ia gambarkan sebagai "yang paling panjang shift-nya bulan ini" dan Mama tertawa dengan nada yang hanya keluar kalau beliau benar-benar rileks, bukan tawa sosialnya yang biasa. Ce Kinan cerita pekerjaannya di Jakarta. Papa mendengarkan dengan wajah yang khusus dipakai waktu bangga tapi tidak mau keliatan terlalu bangga.
Aku makan. Mendengarkan. Merasakan sesuatu yang langka rasa hangat yang datang dari duduk di antara orang-orang yang mengenalmu sebelum kamu jadi apa pun.
Seharusnya aku nikmati saja. Seharusnya aku biarkan malam ini menjadi malam ini tidak bawa apa-apa, tidak buka apa-apa. Aku sudah terlalu lelah untuk konfrontasi.
Dan kemudian Papa menoleh ke arahku.
"Gimana progress kamu sekarang, Nadine?"
Tiga kata yang paling sering membuatku tidak bisa tidur malam. Progress kamu sekarang. Bukan gimana kabarmu. Bukan kamu kelihatan lelah, istirahat yang cukup. Progress. Seperti aku adalah proyek yang perlu dilaporkan perkembangannya per kuartal.
Aku menatap Papa.
Dan semua yang sudah kutahan sejak subuh tadi sejak dua ratus tiga puluh tujuh notifikasi itu naik ke permukaan sekaligus.
Aku masih mencoba menjaga nada waktu mulai bicara. Itu yang pertama kuusahakan jangan langsung meledak, jangan beri mereka alasan untuk mengatakan aku bereaksi berlebihan.
"Aku udah tau, Pa. Aku udah tau perusahaan Papa jadi sponsor utama PBSI."
Meja makan tiba-tiba sunyi. Sunyi yang berbeda dari sunyi tadi bukan sunyi hangat, tapi sunyi yang menahan napas.
"Papa bisa ga sih ga usah ikut campur di sini? Papa ga ada tempat lain? Aku ada di sana loh, Pa. Gimana nanti reaksi orang-orang? Teman-teman aku? Papa kayak mau jatuhin aku perlahan-lahan."
Suaraku keluar lebih stabil dari yang kuharapkan. Tapi mataku tidak bisa diajak kompromi sudah panas sejak kalimat pertama.
Papa tidak langsung menjawab. Ia meletakkan sendoknya dengan pelan, cara yang selalu ia lakukan sebelum bicara sesuatu yang sudah ia putuskan tidak perlu didebat.
"Anggap aja itu sebagai bukti support Papa terhadap kamu. Toh PBSI juga sedang butuh sponsor besar. Dari sini Papa bisa manfaatkan peluang untuk perusahaan."
Support. Ia menyebut itu support. Seperti namanya di dadaku adalah pelukan. Seperti logo perusahaannya di jersey tim nasional adalah cara mengatakan aku bangga padamu. Seperti ini tentang aku dan bukan tentang ADYA Group dan portfolio investasinya.
Aku merasakan sesuatu putus di dalam dada. Bukan dramatis tidak ada suaranya, tidak ada rasanya yang jelas. Hanya tiba-tiba aku berdiri, sendok sudah kuletakkan di meja, dan aku menatap Papa dari atas.
"Gak gini, Pa, kalau Papa mau support aku."
Suaraku mulai retak di tepian.
"Aku cuma butuh apresiasi Papa. Selama ini... emang Papa sama Mama pernah apresiasi aku?"
Air mata pertama jatuh dan aku benci itu. Bukan karena malu menangis tapi karena setiap kali aku menangis di depan Papa, ada bagian dari percakapan ini yang langsung bergeser. Dari apa yang aku katakan, ke kondisi emosiku. Dan tiba-tiba aku yang perlu ditenangkan, bukan Papa yang perlu menjawab.
Tapi kali ini aku tidak bisa menahannya.
"Sebenernya aku lahir buat apa sih, Pa, Ma?"
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menyaringnya. Dan begitu keluar, aku tahu tidak bisa ditarik kembali. Ia sudah ada di udara, di antara kami berlima, di atas meja makan dengan makanan yang masih mengepul dan tiba-tiba terasa sangat tidak pada tempatnya.
Mama tidak bersuara. Aku tidak berani menatap Mama.
Yang kutatap adalah Ce Kinan.