(377)
Bersabarlah dan Berinteraksilah! (2)
Zona interaksi manusia amat beragam, secara luas sempitnya, struktur, latar belakang, atau yang lain.
Prinsipnya sama, yaitu bersabarlah!
Tulisan ini tentang sejumlah orang yang bersepakat untuk hidup bersama-sama di sebuah tempat agar bisa beribadah kepada Allah dengan lebih baik, sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dan berdasarkan arahan kaum Salaf. Kita singkat saja di sini dengan komunitas Ahlus Sunnah.
Komunitas Ahlus Sunnah di Indonesia tersebar di banyak titik dengan istilah yang berbeda-beda. Ada yang disebut kaplingan, komplek, perumahan, pondok, warga, kampung, atau lainnya. Ada yang proses merintis, sedang berkembang, bahkan tidak sedikit yang telah menjadi komunitas besar.
Harus disyukuri. Tentu menyenangkan hati. Sebab, sama-sama memperjuangkan tauhid, semangat mengamalkan sunnah Nabi ﷺ, dan suasana thalabul ilmi semarak. Hari-hari diramaikan dengan kajian dan taklim. Pendidikan anak diperhatikan. Dan berkumpul dengan orang-orang salih salihah, insya Allah.
Namun, bersabarlah dalam berinteraksi!
Setan berambisi merusak suasana tenang itu. Setan tidak suka dengan rukunnya Ahlus Sunnah.
Jangan heran, jika ada yang bertengkar karena urusan batas tanah, gaduh gara-gara bentuk rumah, berselisih urusan bisnis, bersaing tidak sehat ketika berjualan, cekcok disebabkan anak, seperti ada kubu-kubu an, seolah ada jarak antara orang lama dan orang baru, semacam ada gap antara yang kaya dan yang miskin, dilema remaja, problematika rumah tangga, kesulitan ekonomi, ribut-ribut masalah jadwal ronda dan kebersihan, muncul pro kontra dengan kebijakan pondok, antar pengurus tidak harmonis, sentimen asal daerah, dan seabreg problem lainnya.
Setan berambisi menebar kebencian dan menyemai benih-benih perselisihan! Jangan rela menjadi korbannya!
Iblis mengirim pasukannya untuk menebar kejahatan. Yang paling luas kerusakannya, maka dia paling disayang Iblis. Setiap ada laporan bahwa pasukannya telah berbuat kejahatan ini dan itu, Iblis menanggapi, " Kamu tidak berbuat apa-apa".
Giliran ada yang melapor bahwa dia telah merusak hubungan sepasang suami istri sampai mereka bercerai, Iblis memuji :
نِعمَ أنتَ
" Hebat kamu! " HR Muslim 2813 dari Jabir bin Abdillah.
Sebagian ulama menerangkan; jika membuat suami istri berpisah dipuji-puji Iblis, apalagi jika membuat pertengkaran dan perselisihan di komunitas Ahlus Sunnah.
Sebenarnya, secara ilmu telah sampai. Bukankah di komunitas-komunitas Ahlus Sunnah rutin dikaji kitab-kitab Adab? Kitab Adabul Mufrad, Riyadhus Salihin, Sahih Targhib wat Tarhib, Kitabul Jami' Bulughul Maram, dan kitab-kitab yang semisal, bukankah sudah dipelajari?
Sedih, jika sudah belajar keharusan menghormati hak-hak muslim, apalagi hak-hak tetangga, namun kenapa tidak diamalkan?
Sedih, jika sudah mengerti syariat mengucapkan salam, berbagi hadiah, saling mengunjungi, saling mendoakan, saling memaafkan, saling memberi udzur, saling berhusnuzan, namun kenapa tidak diamalkan?
Sedih, jika sudah mengetahui larangan hasad, su'uzan, ghibah, namimah, berbohong, bermuka dua, mencela, membully, merendahkan, namun kenapa tidak ditinggalkan?
Mestinya takut dengan ancaman Allah Ta'ala ;
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
"Sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 3)
Untuk berinteraksi, mari kita mengamalkan hadis berikut ini!
Rasulullah ﷺ pernah ditanya tentang orang yang paling baik itu siapa? Beliau menjawab, " Orang yang berhati makhmum dan berlisan jujur".
Saat para sahabat meminta penjelasan tentang hati makhmum, Rasulullah ﷺ menjawab;
هو التقيُّ النقيُّ لا إثمَ فيه ولا بغيَ ولا غِلَّ ولا حسدَ
" Orang bertakwa dan hatinya jernih. Di hatinya tidak ada dosa, tidak ada kezaliman, tidak ada benci dan tidak ada hasad " HR Ibnu Majah dari sahabat Ibnu Mas'ud.
Ya Allah, lembutkanlah hati kami untuk bisa saling bersabar satu sama lain.
18 Syawwal 1447 H/06 April 2026