ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ"Aku yakin kalian akan berhasil. Sampai bertemu kembali, Ghost Riders, ... kelak saat kita telah menang."
ㅤㅤㅤㅤUsai dilontarkan, Mephistopheles hirap dari pandangan. Sosoknya buyar bersama pusaran kabut yang bergulung; dilahap kembali oleh kelam yang sejak awal melahirkannya. Yang tertinggal hanyalah gaduh dalam sanubari para pemuda yang terpalit kutukan dan saling bertanya lewat tatapan.
ㅤㅤㅤㅤKhalayak pemilik bibir terkatup bisu, tetapi manik per manik lincah membelu-belai isi kepala. Wujud Blackheart masih menjadi ambiguitas yang buntu, bahkan hanya bisa sekadar berandai-andai. Bagaimana gerangan paras makhluk itu, di mana ia bersembunyi, dan dengan cara apa dapat dijumpai lalu dibendung langkahnya. Semua itu tidak pernah diutarakan dengan gamblang oleh Mephistopheles. Pria paruh baya tersebut hanya meninggalkan satu petunjuk agar kedelapannya tetap mempergunakan kepiawaian yang telah menyatu pada diri; menjadikan seluruh indera sebagai mata elang yang turut andil dalam pengawasan, serta menaruh atensi pada gereja-gereja yang merebak di penjuru kota.
ㅤㅤㅤㅤLekas mereka mafhum; segala daya yang masih tersisa dalam diri harus dikerahkan untuk menyingkap jejak Blackheart serta menggagalkan rencana merenggut kotak yang dimaksud. Taruh kata pengaruh iblis yang terkurung di dalamnya terlepas ke tangan yang sesat, dunia niscaya tidak lagi mengenal batas antara bumi manusia dan ngarai neraka.
ㅤㅤㅤㅤMaka dari itu, dengan meningkatnya kewaspadaan serta keberanian yang dipaksa bangkit kembali ke permukaan, mereka bersiap untuk menjalankan misi yang baru saja diserah terima, sembari tetap awas terhadap setiap kemungkinan ancaman Blackheart yang bisa saja muncul dari segala arah—kapan saja, di mana saja.
ㅤㅤㅤㅤSenja berikutnya merunduk lesu di tepian kota, membawa sayup-sayup jingga yang seakan menandai firasat buruk. Pada saat itu, Keegan—salah seorang Ghost Rider—disergap visi yang mengusik nalar. Dalam penglihatannya, tiga sosok asing tampak berdiam di dalam sebuah gereja tua. Gerak-gerik mereka mencurigakan. Lahir pula kekacauan dari tangan-tangannya. Tempat yang seharusnya suci dinodai oleh hadirat yang bahkan bentuk tubuhnya menyimpang dari rupa sebenar-benarnya manusia.
ㅤㅤㅤㅤKeegan segera menyadari bahwa penglihatan itu bukan perkara ringan. Isyarat ancaman berjalin di dalamnya. Tiga sosok tersebut hampir pasti bersangkut paut dengan siasat Blackheart, entah sebagai abdi atau jelmaan sang pewaris itu sendiri. Apa pun hakikat mereka, satu hal menjadi terang dalam benak bahwa muslihat sudah dalam kendali. Kotak yang memenjarakan seribu iblis kini berada di ambang perebutan.
ㅤㅤㅤㅤMenghadapi pertanda yang demikian, Keegan tidak diberi kelonggaran untuk ragu. Maka dengan segera, ia menyampaikan penglihatannya kepada sesama Ghost Riders. Keegan menyerukan kesiagaan sebab selarasnya langkah akan menjadi nadi utama. Hanya dengan sehimpun daya, mereka berpeluang besar menyingkap modus Blackheart dan menjaga kotak dari nasib yang malang.
ㅤㅤㅤㅤKabar itu disambut baik. Para Ghost Riders segera berangkat menuju tempat yang disebutkan, masing-masing menunggang kendaraan yang sepintas terlihat biasa. Namun, saat mesin-mesin dihidupkan, dari ujung kaki hingga ke kepala, raga mereka luruh dari wujud insani. Tersingkap tengkorak berpijar di balik daging dan kulit yang kian ranggas. Pun, kendaraan mereka ikut bertransformasi. Seluruh bagian dilumat api yang berkobar hebat, seolah-olah roda-roda itu digerakkan oleh amarah dari murka neraka.
ㅤㅤㅤㅤGelap mengiringi laju mereka. Nyalanya bak menjilat belakang ban, tanggalkan jejak hangus yang panjang pada permukaan aspal. Tiap putaran terasa bagai goresan pada tubuh dunia. Kehadiran mereka sendiri menandai sesuatu yang tidak seharusnya berjalan berdampingan dengan kehidupan biasa. Wujud yang absolut mengguncang waras, tetapi sekaligus memikat dalam kedahsyatan yang sulit ditolak pandangan. Tujuan mereka hanya satu; gereja tua di mana momok iblis berakar.
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤ