Riyad al-Asaad: Dari Pendiri Tentara Suriah Bebas hingga Anggota Komite Penasihat Militer Tertinggi
Riyad al-Asaad, salah satu tokoh paling ikonik dalam Revolusi Suriah, kembali mendapat perhatian publik setelah diangkat sebagai anggota Komite Penasihat Militer Tertinggi (ุงูููุฆุฉ ุงูุนุณูุฑูุฉ ุงูุงุณุชุดุงุฑูุฉ ุงูุนููุง) di Kementerian Pertahanan pemerintah transisi Suriah pada Maret 2026.
Al-Asaad lahir pada 2 Februari 1961 di Jabal al-Zawiya, Provinsi Idlib. Ia bergabung dengan Angkatan Udara Suriah pada tahun 1980 dan meniti karier sebagai insinyur militer hingga mencapai pangkat Kolonel. Sebelum revolusi, ia bertugas di Divisi ke-22, Brigade ke-14.
Ketika demonstrasi damai pecah pada Maret 2011 dan rezim Bashar al-Assad merespons dengan kekerasan brutal, Riyad al-Asaad memilih untuk tidak tinggal diam. Pada 4 Juli 2011, ia menjadi perwira tinggi pertama yang secara terbuka membelot dari angkatan bersenjata Suriah. Ia menolak perintah untuk menindas rakyat sipil dan menyatakan bahwa ia tidak akan ikut serta dalam pembunuhan terhadap warga sendiri.
Hanya beberapa minggu kemudian, pada 29 Juli 2011, bersama sejumlah perwira pembelot lainnya, ia mengumumkan pendirian ุฌูุด ุงูุญุฑ/ Tentara Pembebasan Suriah / Free Syrian Army, FSA). Dalam pernyataannya, al-Asaad menegaskan bahwa tujuan utama FSA adalah melindungi demonstran tak bersenjata dan mengorganisir perlawanan terhadap rezim. Ia ditunjuk sebagai Komandan Tertinggi pertama FSA.
Peranannya sebagai simbol awal revolusi tidak berjalan mulus. Pada Maret 2013, ia selamat dari upaya pembunuhan melalui bom mobil di Deir ez-Zor yang menyebabkan kaki kanannya harus diamputasi. Meski demikian, ia terus aktif di Turki dan kemudian di wilayah Idlib, meskipun pengaruh operasionalnya menurun seiring munculnya kelompok-kelompok bersenjata lainnya.
Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada akhir 2024, Riyad al-Asaad kembali ke Damaskus. Pada akhir Maret 2026, ia bertemu dengan Menteri Pertahanan Mayor Jenderal Murhaf Abu Qasra di kantornya di Damaskus. Dalam pertemuan tersebut, yang juga disertai ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri, dibahas mekanisme kerja Komite Penasihat Militer Tertinggi. Al-Asaad resmi diangkat sebagai anggota badan ini bersama sejumlah perwira tinggi pembelot lainnya, seperti Mayor Jenderal Muhammad Haj Ali, Muhammad Nour Khallouf, dan Abdul Aziz al-Shallal.
Pengangkatan ini dipandang bukan sekadar jabatan administratif, melainkan pengakuan kembali terhadap salah satu simbol awal Revolusi Suriah. Kehadiran al-Asaad di lembaga resmi pemerintah transisi dianggap sebagai pesan kuat bahwa โorang yang menyalakan percikan pertama revolusi masih hadir dalam merancang masa depan Suriahโ.
Langkah ini juga mencerminkan upaya pemerintah transisi untuk mengintegrasikan pengalaman para perwira pembelot awal ke dalam proses pembangunan kembali institusi militer dan keamanan Suriah pasca-Assad, sekaligus menyatukan berbagai komponen sejarah revolusi. Satu bukti lagi kecerdasan Ahmad asy-Syara'.