Tahu “Perjanjian Hudaibiyah?”
Saat itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat berada di pihak yang jelas dizalimi. Mereka diusir, disiksa, dan dirampas haknya. Secara moral, posisi mereka tidak perlu diperdebatkan. Mereka benar.
Namun ketika kesempatan perang terbuka, Rasulullah tidak memilihnya. Beliau memilih perjanjian. Bahkan perjanjian yang di mata banyak sahabat, terasa tidak adil dan menyakitkan harga diri.
Isi perjanjiannya kira-kira begini:
• kaum muslimin tidak boleh masuk Mekah tahun itu
• kaum muslimin harus pulang, baru boleh umrah tahun depan
• Jika ada orang Quraisy masuk Islam dan lari ke Madinah, harus dikembalikan
• Tapi kalau ada Muslim yang balik ke Quraisy, tidak perlu dikembalikan
• Gencatan senjata 10 tahun
Andai saat itu aku ada disana, pasti aku akan berteriak: “Ini nggak adil!” “Kita yang benar, kenapa kita mengalah?”
Bahkan Umar bin Khattab sampai bertanya: “Bukankah kita di pihak yang benar, ya Rasulullah?” Rasulullah tidak membalas dengan emosi, tapi dengan visi jauh ke depan.
Saat penulisan perjanjian dimulai, Ali bin Abi Thalib menulis: “Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasulullah dan Quraisy…”
Utusan Quraisy langsung protes: “Kami tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul.” Mereka minta tulisan itu dihapus. Diganti “Muhammad bin Abdullah”.
Para sahabat tercekat. Ini bukan sekadar kata. Ini soal harga diri. Ali menolak. Tangannya tak sanggup menghapus. Dan… Rasulullah ﷺ menghapusnya sendiri.
Sampai di titik ini, andai saat Perjanjian Hudaibiyah terjadi, sudah marak sosial media seperti sekarang. Maka para influencer pasti akan bilang gini,
“Gila ya Muhammad, katanya Nabi, tapi kok malah ikutin apa maunya kafir Quraisy!”
“Udah jelas kaum muslimin disiksa, hartanya dirampok, kok masih mau berunding sama kafir Quraisy!”
“Dia bahkan ngalah lho saat suruh hapus gelar Rasulnya, apa jangan-jangan sebenarnya dia bukan Rasul?”
“Nabi kok menjamin keamanan buat perampok! Apa nggak sesat tuh keputusannya!”
Dan komenter-komentar lain. Jangan bilang enggak! Kita saat ini bisa melihat kebenaran, karena Perjanjian Hudaibiyah itu sudah ditulis oleh tinta emas sejarah…
Kita hari ini bisa tenang berkata, “Rasulullah benar,” karena hasil akhirnya sudah kita tahu.
Kita tahu: setelah Hudaibiyah, perang besar berhenti, dakwah justru berkembang pesat, banyak tokoh Quraisy masuk Islam, dan Mekah akhirnya ditaklukkan tanpa pertumpahan darah besar.
Allah bahkan menurunkan ayat: “Sesungguhnya Kami telah memberimu kemenangan yang nyata.” (QS Al-Fath: 1)
Tapi jujur saja, ayat itu turun setelah perjanjian ditandatangani, bukan sebelum. Artinya apa? Artinya, di momen kejadiannya, keputusan Rasulullah tidak terlihat heroik, tidak memuaskan emosi, dan sangat mudah disalahpahami.
Persis seperti hari ini. Hari ini, ketika ada pemimpin bicara dengan bahasa diplomasi,
bukan bahasa teriakan, bukan bahasa amarah, bukan bahasa “yang penting kelihatan paling benar”, lalu langsung dituduh:
“Ini sesat.”
“Ini membela penjahat.”
“Ini legitimasi kezaliman.”
Padahal tuduhan semacam itu persis dengan komentar-komentar imajiner tadi. Bedanya satu: kita belum sampai di halaman akhir sejarah.
Saat Rasulullah ﷺ menandatangani Hudaibiyah, beliau tidak mengubah posisi moral Islam. Beliau tetap berada di pihak yang dizalimi. Beliau tidak mengakui kezaliman Quraisy sebagai benar. Namun yang beliau ubah adalah cara berhadapan. Rasulullah memilih bahasa yang diterima lawan, bukan bahasa yang memuaskan amarah sendiri.
Karena Rasulullah paham satu hal yang sering dilupakan orang yang gemar berteriak: orang yang merasa terancam tidak akan berhenti menyerang, sekeras apa pun kita mengutuknya.
Maka beliau menurunkan senjata, mengunci alasan perang, dan membiarkan waktu bekerja. Kalau hari itu Rasulullah memilih memuaskan emosi sahabat, mungkin kita tidak pernah membaca QS Al-Fath hari ini.
Dan di sinilah letak masalah banyak orang sekarang. Mereka ingin kebenaran yang lantang, tapi lupa bahwa kebenaran juga butuh strategi. Mereka ingin moral yang keras, tapi menolak cara agar darah berhenti.