Ulama itu diambil keberkahannya dengan ilmu dan doa, bukan dengan gambarnya.
Di antara fitnah terbesar di tengah masyarakat hari ini (yang mungkin saya termasuk pelakunya) adalah anggapan, atau setidaknya hasrat, bahwa keberkahan ulama dapat “diambil” hanya dengan bergambar bersama mereka. Lebih jauh lagi, muncul persepsi di kalangan awam bahwa siapa pun yang pernah bergambar dengan seorang ulama tertentu otomatis dianggap sebagai murid sejatinya, seakan-akan setiap ucapan dan sikapnya di masa depan adalah representasi dan legitimasi dari sang ulama.
Saya pernah menemukan seseorang yang mengaku sebagai murid dari ulama A dengan menunjukkan fotonya. Setelah saya tanya, apa saja faedah yang kamu dapatkan, dia berpikir lama, dan berujung mengalihkan topik.
Wallahi, ini termasuk fitnah yang besar.
Dahulu, bagaimana cara kita mengenal bahwa fulan benar-benar murid dari fulan? Apakah melalui gambar? Tidak. Hubungan murid dan guru dikenal melalui ilmu, cara berbicara, cara memahami masalah, kedalaman istidlal, adab terhadap khilaf, dan ketertautan metodologi. Pada masa lalu, satu-satunya cara membuktikan kedekatan dengan seorang ulama adalah melalui ilmu yang dibawa dan diajarkan, bukan melalui visual yang terpampang melalui lensa kamera semata.
Keberkahan ulama tidak terletak pada potret, tetapi pada ilmu yang diajarkan dan doa yang dipanjatkan. Adapun gambar, ia pada dasarnya hanyalah sarana, bukan tujuan. Fungsinya harusnya kembali kepada dua hal, agar seseorang dapat mengenali sang ulama, lalu dari pengenalan itu mengalirlah kebermanfaatan berupa ilmu, dan doa.
Maka, jika gambar tidak mengantarkan pada tujuan tersebut, tidak menambah ilmu, tidak meluaskan manfaat, atau tidak menjaga amanah keilmuan, lalu untuk apa ia diagungkan?
Menghormati ulama adalah dengan belajar sungguh-sungguh dari ilmunya, dan tidak menjadikan kedekatan "simbolik" sebagai legitimasi keilmuan.
Apakah saya anti bergambar dengan para ulama? Tidak sama sekali. Yang saya tekankan justru adalah kenyataan pahit bahwa tidak sedikit ulama yang dirugikan hanya karena ada orang yang mendakwakan dirinya sebagai murid, padahal ia tidak pernah benar-benar belajar. Sebab gambar sering kali dijadikan “bukti kedekatan”, lalu dipakai sebagai legitimasi untuk berbicara, berfatwa, atau bersikap seolah-olah mewakili sang ulama. Di titik inilah fitnah bermula, dan ulama kerap menjadi korban dari klaim yang tidak pernah mereka izinkan.
Padahal, lintasan pertama yang seharusnya hadir dalam benak seorang penuntut ilmu ketika berjumpa dengan ulama bukanlah gambar, melainkan ilmu atau doa. Gambar hanyalah alternatif. Itulah adab yang diwariskan para salaf. Mereka duduk, mendengar, memahami, lalu mengambil manfaat, bukan mengabadikan momen demi "pengakuan sosial".