#65 a wamth kiss?
—
Mereka berdua jelas tau, ada yang namanya pertukaran afeksi lebih intim dari sekedar kalimat manis dan sentuhan sayang.
"Huhu, sakit sayang..."
"Benjol sedkit aja kok ya..."
Bukan sekedar usapan sayang di kening sisa kena benturan seperti ini saja.
"Dingin tangan kamu Ra..."
Juga bukan sekedar genggaman tangan hangat yang semakin erat seiring bertambah dinginnya cuaca.
Ini lebih intens, lebih manis, tapi masih dalam batas wajar buat mereka yang masih sekedar pasangan muda. Pertukaran afeksi yang lazim ada di tayangan film romansa; soal pertukaran sentuhan di kulit tipis merah merah yang kita sebut dengan bibir.
"Kamu pernah pacaran sebelum sama aku gak, Ra?" Tanya Raka setelah kehabisan stok percakapan di ujung 11 malam.
"Pernah, cinta monyet tok. Kebanyakan sebentar terus selesai." Adira tengok Raka yang menyamankan tubuh dengan merentangkan tangan—dan satu tangannya berada di balik tubuh Adira, "kalau kamu Mas?"
Raka menggeleng, "gak ada waktu. kagum-kagum iya sering, tapi sekedar gitu aja. Aku kejar sekolah soalnya, jadi kurang bisa fokus pacaran."
Netra dua insan ini bertemu. Menyedot seluruh perhatian dan cuma terpusat di masing-masing netra dengan pendar sama terbaca. You know what? Ada ketertarikan, damba dan keinginan di sana.
"Ra."
"Hm?"
Raka lirik tangannya di balik tubuh Adira, tangan yang yang perlahan merambat, peluk pinggang berbalut jaket ini perlahan. Tidak ada perlawanan berarti, membuat Raka berani tarik tubuh wanitanya mendekat.
Sedekat apa? Kalau boleh dijelaskan—sampai terpa nafas hangat itu samar teraba di masing-masing wajah.
Adira tidak terlihat malu, matanya begitu tegas tatap Dewangga Muda yang terlihat bersemu.
"Mikir apa, Mas..."
Terbaca, dan seringai malu itu Raka tunjukan.
Ayolah, mereka sudah cukup dewasa buat sekedar membaca gerak-gerik. Bukan lagi pemuda-pemudi yang butuh menelaah soal apa maksud dari pelukan di pinggang dan cengkraman di kerah baju.
Iya, Adira tumpukan tangannya di dada Raka, remat kerah jaket ini supaya jauh lebih mendekat. Dekat sekali... hidung keduanya kini bersentuhan.
"Ra..." Bisik Raka tepat di depan bibir merah yang ia puja-puji setiap malam sepi.
"Iya..." Adira menanti, soal apa yang mau diutarakan.
"Kamu ngerasanya, gimana?" Tangan raka bergerak, mengusap punggung sempit wanitanya ini naik turun perlahan, penuh perasaan.
"Anget." Jawab Adira sesingkat mungkin. Mata dengan bingkai tajam ini perlahan terpejam, menikmati usapan tangan besar yang kali ini punya tempo jauh lebih romantis dibanding keseharian.
Oh, astaga. Langit malam jadi saksi bagaimana Dewangga Muda ini mengagumi wajah kecil dengan pahatan bak Dewi Surgawi. Hidung kecil yang ia dusal dengan pelan, lalu miring kepalanya yang membuat bibir ini semakin tidak berjarak.
"Boleh, Ra?" Diucapakan begitu lirih, penuh permohonan dan keinginan hebat.
Jeda sepersekian detik, membuat Raka frustasi dalam hasrat yang sudah diujung tanduk. Terpejamnya seperti menyimpan gelisah-yang runtuh begitu satu sentuhan halus mampir raba bibirnya.
A light kiss she gave, as an answer.
Raka tidak repot buka matanya, senyumnya merekah lebar, dekapannya mengerat dan ia labuhkan ciuman manis pertama buat Lazuardi cantiknya.
Adira tidak perlu meragukan, bahkan dari pertama Raka cumbu bibir bawahnya, ia tahu—lelakinya ini, pencium hebat.
Manis sekali... bagaimana bibir bawah Adira disesap terus menerus, pelan dan manis. Membuatnya terpancing untuk membalas dan memohon supaya bibir atasnya berhenti diacuhkan.
"Sabar.... sayang...." Raka berbisik, menyadari ketidaksabaran wanitanya cuma dengan merasakan bagaimana cengkraman Adira di kerah jaketnya ini terlepas, berpindah jadi bertumpu di pundak.
Raka jauhkan wajahnya sedikit, membuat Adira tanpa sadar mengejar bibirnya dan merasa dikerjai.
Oh my god, she want it, so bad...