Dia, dia dengan paras yang sangat keren. Dia dengan senyuman termanis yang pernah ada, mampu membuatku terjun ke dalam lautan gula. Dia dengan kata-kata yang sama sekali tak pernah menyakitiku, tutur kata yang lembut, merdu suaranya. Dia benar-benar definisi pria sejati. Aku dan dia berteman layaknya seorang Kakak dan Adik. Kami benar-benar seperti saudara kandung. Dia yang tak pernah absen ke rumahku, dan aku yang tak pernah absen untuk bermain dengannya. Dia asik, dia pria yang sangat seru, barang sekali kami pernah saling bertukar cerita, dia mengatakan kalau dia menyayangiku dengan sangat dan amat, aku membalasnya dengan candaan, dan kami tertawa bersama. Sungguh hangat dahulu itu.
Lalu, kehangatan itu berlepas tangan saat hari itu. Minggu, tanggal 17 Februari 2022. Malamnya, sekitar pukul delapan, aku meminta tolong padanya. Itu hal wajar yang sering terjadi. Aku meminta tolong padanya untuk membelikan aku makanan, karena di rumah tak ada apa-apa, dan aku sendirian. Aku juga sedang tak ingin keluar karena malas. Jadi, aku memintanya untuk membelikanku. Dan dia tanpa berat hati langsung mengiyakan permintaanku.
Aku menunggunya di rumah sembari menonton Televisi. Entah karena waktu yang sangat cepat atau memang dia yang lama, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Aku menelponnya berulang-ulang kali, tapi tak dijawab, ponselnya tidak aktif. Aku mencoba untuk menunggu lagi, mungkin dia sedang sibuk. Walaupun pikiranku itu tidak masuk logika. Aku melanjutkan untuk menonton Televisi, lalu, ada yang menelponku. Bundanya yang menelponku. Tanpa ragu aku mengangkat telepon tersebut.