✍🏼✅❌ ILMU YANG DIPUJI DAN ILMU YANG DICELA DALAM AL-QUR'AN
Allah Ta‘ala menyebut ilmu di dalam Al-Qur’an dalam dua wajah:
1. Ada ilmu yang dipuji, ditinggikan, dan diperintahkan untuk diminta tambahannya.
2. Ada ilmu yang dicela, disamakan dengan beban yang dipikul keledai: ada bentuknya, tetapi tidak memberi manfaat bagi pemiliknya.
👉🏼 Perbedaan dua jenis ilmu ini bukan sekadar istilah, tapi perkara yang menentukan keselamatan hati dan lurusnya perjalanan hidup seorang muslim.
1️⃣ Ilmu yang Dipuji
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menambah kejelasan hati, memperkuat iman, dan menuntun kepada amal yang benar. Ilmu inilah yang Allah perintahkan untuk dimohonkan tambahan-Nya.
Ilmu bukanlah sekadar kumpulan kata, bukan banyaknya riwayat atau luasnya diskusi, melainkan cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati, hingga dengannya seseorang mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
Karena itu para salaf mengatakan,
“Ilmu itu bukan dengan banyaknya riwayat, tetapi cahaya yang Allah letakkan di dalam hati.”
2️⃣ Ilmu yang Dicela
Di sisi lain, Al-Qur’an juga mencela ilmu namun bukan zatnya, akan tetapi ketika ia kehilangan manfaat. Allah menyerupakan orang semacam ini seperti keledai yang membawa kitab-kitab: memikul beban, tapi tidak mampu memahami atau mengambil faedahnya.
Imam al-Hāfizh Ibnu Rajab al-Hambali _rahimahullah_ menukilkan bahwa para imam menyebut ilmu yang tidak bermanfaat sebagai ilmu yang hanya membebani diri, menguras waktu, dan mengaburkan tujuan hidup.
Di antara bentuk ilmu yang tercela tersebut adalah:
❌ Ilmu yang Mudarat dan Harus Ditinggalkan seperti:
✓ Ilmu sihir
✓ Perdukunan dan segala cabangnya
❌ Ilmu yang Tidak Diperlukan dan Diselami Tanpa Kebutuhan seperti:
✓ Terlalu mendalami nasab bangsa Arab, kecuali sekadar membantu silaturahmi
✓ Terlalu menekuni syair tanpa tujuan syar‘i
✓ Ilmu perbintangan selain untuk arah, kiblat, cuaca, atau musim
✓ Ilmu hitung secara berlebihan tanpa kebutuhan nyata
❌ Ilmu Agama yang Terlarang seperti:
✓ Ilmu kalam yang membahas sifat-sifat Allah dengan akal semata, tanpa dalil
✓ Perdebatan tentang halal-haram sekadar untuk menang, bukan mencari kebenaran (al-mirā’)
✓ Ilmu yang meragukan agama dan mengkritik syariat dengan logika bebas
✓ Ilmu kebatinan berdasarkan rasa, ilham mimpi, atau singkapan pribadi, lalu dijadikan prinsip keyakinan
❌ Membahas Takdir Tanpa Dalil yaitu:
✓ Menimbang takdir dengan logika, mempertentangkan dalil-dalil, dan memasukinya tanpa petunjuk wahyu, semua ini termasuk ilmu tercela.
❌ Filsafat Tanpa Fondasi Syar'i
✓ Terjun dalam filsafat sebelum menguasai Al-Qur’an dan Sunnah adalah jalan yang menyesatkan, sebagaimana dinasihatkan oleh banyak imam salaf.
Kesalahan Generasi Setelah Salaf
Sebagian orang beranggapan bahwa generasi setelah salaf lebih berilmu karena tulisan mereka lebih banyak, kata-kata mereka lebih luas, dan pembahasan mereka lebih beragam. Keyakinan ini adalah bentuk perendahan terhadap salaf yang justru merupakan generasi paling berilmu dan paling diberkahi pemahamannya.
Ibnu Rajab menjelaskan,
“Yang terpuji adalah orang yang banyak ilmunya namun sedikit ucapannya. Dan yang tercela adalah yang banyak bicaranya namun sedikit ilmunya.”
Karena ilmu bukanlah permainan kata. Ia juga bukan hiasan lisan. Ilmu yang sejati memancar melalui akhlak, ketenangan, dan ketepatan dalam bersikap.
___
*Penutup: Ilmu yang Hidup dalam Perilaku*
✅ Ilmu yang bermanfaat adalah yang menghidupkan hati, mengubah diri, dan tercermin dalam amal, adab, serta ketakwaan. Ia diungkapkan sesuai keperluan, tanpa mubazir kata, tanpa membelah-belah persoalan yang tidak penting.
Semoga Allah menjadikan kita pemilik ilmu yang bermanfaat, yang menuntun, menerangi, dan mengangkat derajat kita di dunia hingga akhirat.
***
bersambung
📚 Referensi: Catatan Kajian Tematik oleh al-Ustadz Abu Haidar Harits hafidzahullah - Ahad, 13 Zulkaidah 1446 H / 11 Mei 2025 M.
Ditulis oleh: Tim Redaksi Artikel Media Ukhuwah Anak Kuliah